Isnin, 21 November 2011

Niat Yang Ikhlas

Setiap hamba Allah memiliki kemampuan dan kemauan dalAm beribadah yang berbeda-beda. Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan berarti apa-apa amal seorang hamba. Tidak akan ada nilainya di sisi Allah jika tidak ikhlas dalam beramal.
Niat adalah pengikat amal. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi teramat sangat penting dan akan membuat hidup ini menjadi lebih mudah, indah dan jauh lebih bermakna.
Balasan yang dinikmati oleh hamba Allah yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun amalan tersebut belum dilakukan. Disamping itu akan merasakan ketentEraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena dia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan atau imbalan. Dipuji atau tidak sama saja

TUMPUKAN AMALMU HANYA KEPADA ALLAH

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan peribadi ataupun imbalan duniawi dari apa yang dapat dilakukan. Tumpuan orang ikhlas hanya satu, yakni bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah.
Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya bersifat sementara, karena ianya akan menjadikan amalan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasan belum sempurna. Yang ukuran nilai ibadahnya adalah duniawi. Misalnya ketika wudlu…ternyata disamping ada seoran gulaa yang cukup terkenal dan disegani, makan wudlu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan.
Hamba Allah yang ikhlas mampu beribadah secara istiqamah dan terus menerus. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitI amalnya dalam kondisi ada atau tidak adanya orang yang memperhatikan adalah sama. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya.
Seorang pembicara yang tulus tidak harus merekayasa aneka kata-kata agar penuh pesona, tetapi dia usahakn agar setiap kata-kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata-kata yang disukai Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan maknanya. Selebihnya terserah Allah, kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang Maha Kuasa menghunjamkannya ke dalam setiap kalbu.
Oleh karena itu tidak perlu terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah samasekali tidak membutuhkan rekayasa karena Dia Maha Tahu segala lintasan hati, Maha Tahu segalanya! Semakin jernih, semakin bening, dan semakin bersih segala apa yang kita lakukan atau semakain seluruh aktivitas ditujukan semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah lah yang akan menolong segalanya.
IKHLAS, RAHASIA PARA KEKASIH ALLAH
Seorang sahabat dengan mimik serius mengajukan sebuah pertanyaan,“Ya kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?“
Nabi SAW, kekasih Allah yang paling mulia bersabda,“Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril a.s.apakah ikhlas itu?Lalu Jibril berkata,“Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?“ Allah SWT yang Mahaluas Pengetahuannya menjawab,“Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“(H.R Al-Qazwini)
Dari hadits diatas nampaklah bahwa rahasia ikhlas itu diketahui oleh hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya. Untuk mengetahui rahasia ikhlas kita tidak lain harus menggali hikmah dari kaum arif, salafus shaalih dan para ulama kekasih Allah.
Antara lain Imam Qusyaery dalam kitabnya Risalatul Qusyairiyaah menyebutkan bahwa ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah sebagi satu-satunya sesembahan. Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk. Dikatakan juga keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu manusia.
TANDA-TANDA IKHLAS SEORANG HAMBA
1. Tidak mencari populartias dan tidak menonjolkan diri
2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian.
Pujian hanyalah sangkaan orang kepada kita, padahal kita sendiri yang tahu keadaan kita yang sebenarnya. Pujian adalah ujian Allah, hampir tidak pernah ada pujian yang sama persis dengan kondisi dan keadaan diri kita yang sebenarnya.
3. Tidak silau dan cinta jabatan
4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
5. Tidak mudah kecewa.
Seorang hamba Allah yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik lalu terjadi atau tidak yang dia niatkan semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah SWT. Misal ketika kita menjenguk teman sakit di RS luar kota, ternyata ketika kita sampai yang bersangkutan telah sembuh dan pulang. Tentu sjaa kita tidka harus kecewa karena niat dan perjalan termasuk ongkos dan keletihannya sudah mutlak tercata dan tidak akan disia-siakan Allah.
Seorang hamba yang ikhlas sadar bahwa manusia hanya memiliki kewajiban menyempurnakan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Perkara yang terbaik terjadi itu adalah urusan Allah.
Masalah kekecewaan yang wajar adalah jika berhubungan dengan urusan dengan Allah, kecewa ketika ternyata sholatnya tidak khusyu‘, ibadahnya tidak meningkat dsb.nya.
6. Tidak membedakan amal yang besar dan amal yang kecil
7. Tidak fanatis golongan
8. Ridha dan marahnya bukan karena perasaan pribadi
9. Ringan. Lahap dan nikmat dalam beramal
10. Tidak egis karena sellau mementingkan kepentingan bersama.
11. Tidak membeda-bedakan pergaulan.
IKHLASNYA SEORANG MUQARABBIN
Dalam kitab Al Hikan, karya Syeikh Ibnu Atho’ilah tentang kedudukan seorang hamba dalam amal perbuatannya, terdapat dua tingkatan kemuliaan seorang hamba ahli ikhlas, yakni hamba Allah yang abrar dan yang muqarrabin.
Keikhlasan seorang abrar adalah apabila amal perbuatannya telah bersih dari riya‘ baik yang jelas maupun tersamar. Sedangkan tujuan amal perbuatannya selalu hanya pahala yang dijanjikan Allah SWT. Adapun keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin adalah ia merasa bahwa semua amal kebaikannya semata-mata karunia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayah dan taufik.
Dengan kata lain, amalan seorang hamba yang abrar dinamakan amalan lillah, yaitu beramal karena Allah. Sedangkan amalan seorang hamba yang muqarrabin dinamakan amalan billah, yaitu beramal dengan bantuan karunia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukun dzahir, sedang amal billah menembus ke dalam perasaan kalbu.
Pantaslah seorang ulama ahli hikmah menasihatkan,“Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah saja.“
Tentulah yang memiliki kekuatan dashyat adalah keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.
Syirik Khafi
Takabur - Memandang Pada Diri Sendiri Tidakkah anda terfikir, bahawa Iblis - yang dilaknati Allah - itu memandang kepada dirinya, lalu berkata mengenai Adam: Aku lebih mulia daripadanya! Lantaran itu ia telah dilaknati Allah dan dihalauNya.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu, lalu Kami membentuk rupa kamu, kemudian Kami berfirman kepada malaikat-malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", lalu mereka sujud melainkan Iblis, ia tidaklah termasuk dalam golongan yang sujud.Allah berfirman: "Apakah penghalangnya yang menyekatmu daripada sujud ketika Aku perintahmu?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripada Adam, Engkau (wahai Tuhan) jadikan daku dari api sedang dia Engkau jadikan dari tanah."Allah berfirman: "Turunlah engkau dari Syurga ini, kerana tidak patut engkau berlaku sombong di dalamnya; oleh sebab itu keluarlah, sesungguhnya engkau dari golongan yang hina" (Al-Baqarah: 11-13)
Demikian pula dgn Firaun, dia memandang kepada kerajaannya, lalu berkata: Bukankah aku ini raja yang memiliki negeri Mesir? Maka Allah telah menenggelamkannya.
Dan Firaun pula menyeru (dengan mengisytiharkan) kepada kaumnya, katanya: "Wahai kaumku! Bukankah kerajaan negeri Mesir ini - akulah yang menguasainya, dan sungai-sungai ini mengalir di bawah (istana) ku? Tidakkah kamu melihatnya? (Az-Zukhruf: 51)
Dan Qarun pula, memandang kepada harta kekayaannya, lalu berkata: Semua harta kekayaan ini, aku sendiri yang meraihnya dengan kepandaiku sendiri! Lalu Allah memerintahkan bumi supaya menelannya dengan segala harta kekayannya.
Qarun menjawab (dengan sombongnya): "Aku diberikan harta kekayaan ini hanyalah disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku" (Al-Qasas: 78)
Di ayat yang lain Allah menunjukkan sifat manusia yang takabur:Maka apabila manusia disentuh oleh sesuatu bahaya, dia segera berdoa kepada Kami; kemudian apabila Kami memberikannya sesuatu nikmat (sebagai kurnia) dari Kami, berkatalah dia (dengan sombongnya): Aku diberikan nikmat ini hanyalah disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku. (Tidaklah benar apa yang dikatakannya itu) bahkan pemberian nikmat yang tersebut adalah ujian (adakah dia bersyukur atau sebaliknya), akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat itu). (Az-Zumar: 49)
Sebahagian ahli Tasawuf telah menceritakan, bahawa seorang anak muda menggantungkan tangannya pada kelambu Ka'abah, dia berkata:"Tuhanku, tidak ada bagi Kau Tuhan yang lain, maka perlu didatangi. Tidak ada yang kuasa terhadap Engkau ada yang kuasa terhadap Engkau maka perlu diminta bantuannya. Jika aku taat kepada Engkau maka adalah dengan kurnia Engkau dan kepunyaan Engkau nikmat-nikmat yang dilimpahkan atasku. Jika aku durhaka kepada Engkau maka dengan keadilan Engkau dan milik Engkau alasan-alasan yang diberatkan ke atasku. Maka demi penetapan alasan Engkau yang dihadapkan ke atasku dan putus alasanku di sisi Engkau, tidak ada jalan lain selain Engkau ampunkan dosaku.
" Itulah penghayatan yang dihayati oleh hamba Allah yang telah demikian kenal kepada Allah, bathinnya mengakui dan menghayati bahawa dia fakir dan miskin kepada Allah, meskipun dia kaya. Bathinnya mengakui dan menghayati bahawa dia sangat hina dan dina terhadap Allah, meskipun dia mempunyai kekuasaan dan kerajaan yang agung dan hebat di mata manusia. Sebab dia merasa megah dalam status kehambaan, lahir dan bathin, terhadap Allah s.w.t. Itulah yang dijaganya dan dipeliharanya.
Dan itulah yang sentiasa menjadi pakaiannya lahir dan bathin. Sebab kekayaan lahiriah yang ia punyai, pangkat yang tinggi dan kekuasaan yang ada padanya, dia melihat dengan penghayatan bathin, bahawa semuanya itu tidak lebih dari sekadar pinjaman Allah s.w.t atasnya. (Oleh kerana Allah menguasai segala-galanya, maka) Wahai umat manusia, kamulah yang sentiasa berhajat kepada Allah (dalam segala perkara), sedang Allah Dia lah sahaja Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji. Jika Ia mahu, nescaya Ia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan (perlaksanaan) yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah. (Fathir: 15-17)
Syirik Khafi Banyak di dalam hidup ini orang Islam syirik khafi,Tetapi mereka tidak sedar diri,Kerana terlalu tersembunyi,Melainkan orang-orang itu ilmunya seni sekali,Di antara syirik khafi itu yang kebanyakan orang tidak sedar pada dirinya,
Di antaranya: Orang bertawakal kepada dirinya,
Orang bertawakal kepada ilmunya,
Orang bertawakal kepada hartanya,
Orang bertawakal kepada kebolehannya,
Orang bertawakal kepada kerajaan atau orang kaya yang membantunya,
Orang bertawakal dengan usaha sendiri,
Orang yang bertawakal dengan jawatannya,
Seolah-olah bersandarkan nasib hidupnya kepada perkara tadi,
Maka syirik khafi lah dia,Kalau begitu banyak orang Islam terperangkap dengan syirik khafi, Kerana syirik khafi itu tersembunyi,Orang yang mata hatinya celik sekali,Yang dapat mengesan syirik khafi,
Tetapi bagi orang yang menggunakan akal,Selalu terperangkap dengan syirik khafi,Sebab akal itu selalu bersandar dengan sebab,Sebablah yang memperdaya dirinya,Hingga dia terjebak dengan syirik khafi.
Wallauhu'alam.